LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA ANALISA URIN

ANGINA PECTORIS

ANGINA PEKTORIS

 

PENGERTIAN:

Angina pectoris adalah suatu sindrom klinis berupa serangan sakit dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau terasa berat di dada yang sering kali menjalar ke lengan kiri. Hal ini biasanya timbul saat pasien melakukan aktivitas dan segera hilang saat aktivitas dihentikan.

Angina pectoris biasanya berkaitan dengan penyakit jantung koroner aterosklerotik, tapi dalam beberapa kasus dapat merupakan kelanjutan dari stenosis aorta berat, infusiensi atau hipertrofi kardiomiopati tanpa/disertai obstruksi, aortitis sifilitika, peningkatan kebutuhan metabolic (seperti hipertiriodisme atau pasca pengobatan tiroid), anemia yang jelas, takikardi proksismaldengan frekuensi ventricular cepat, emboli, atau spasme koroner.

MANIFESTASI KLINIS:

Perasaan seperti diikat atau ditekan yang bermula dari tengah dada yg secara bertahap menyebar ke rahang bawah, permukaan dalam tangan kiri, dan permukaan ulnar jari manis dan jari kelingking.

Secara garis besar, ciri khas tanda dan gejala terjadinya angina pectoris dapat dilihat dari letaknya (daerah yang terasa sakit), kualitas sakit, hubungan timbulnya sakit dengan aktivitas, dan lamanya serangan.

Sakit biasanya timbul didaerah sterna, substernal, atau dada sebelah kiri dan menjalar ke lengan kiri. Kualitas sakit yang timbul beragam, dapat seperti ditekan beban berat, dijepit, atau terasa panas. Sakit dada biasanya timbul saat melakukan aktivitas dan hilang saat berhenti, dengan lama serangan berlangsung antara 1-5 menit.

KOMPLIKASI:
komplikasi utama dari angina (stable) adalah unstable angina, infark miokard, aritmia, dan sudden death.

DIAGNOSIS:

Dengan EKG, didapatkan depresi segemen ST lebih dari I mm pada waktu melakukan latihan/aktivitas dan biasanya disertai sakit dada mirip seperti saat serangan angina.

PENATALAKSANAAN:

  • Pengobatan terhadap serangan akut, berupa nitogloserin sublingual, 1 tablet yang merupakan obat pilihan yang bekerja sekitar 1-2 menit dan dapat diulang dengan interval 3-5 menit.
  • Pencegahan serangan lanjutan:

a. long-acting nitrate, yaitu ISDN 3×10-40 mg peroral.

b. beta bloker: propanolol, metoprolol, nadolol, atenolol, dan pindolol

c. kalsium antagonis: verapamil, diltiazem, nifedipin, nikardipin, atau isradipin.

  • Tindakan invasive: percutaneus transluminal coronary angioplasty (PTCA), laser coronary angioplasty, coronary artery bypass grafting (CABG).
  • Olahraga disesuaikan.

SUMBER:
Mansjoer, Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid I. Media Aesculapius: Fakultas Kedokteran UI.

I.JUDUL PRAKTIKUM : PENCERNAAN MAKANAN DAN GLIKOLISIS.

II. TUJUAN:

  1. Mengetahui dan memahami proses pencernaan karbohidrat dalam mulut dan pencernaan oleh pancreas.
  2. Mengetahui dan memahami proses pencernaan protein dalam lambung dan pencernaan oleh pancreas.
  3. Mengetahui dan memahami pencernaan lemak oleh pancreas.
  4. Mempelajari proses biokimia pada metabolism pemecahan glukosa.

III. LANDASAN TEORI.

            3.1 PENCERNAAN MAKANAN

            3.1.1 fungsi saliva dalam mulut

            Sebagian besar bahan makanan dikonsumsi dalam bentuk yang tidak segera dapat digunakan oleh organisme karena bahan makanan tersebut tidak dapat diserap dari dalam saluran cerna sebelum terlebih dahulu dipecah menjadi molekul-molekul yang lebih kecil. Proses penguraian bahan makanan yang terjadi secara alami menjadi bentuk yang bisa diasimilasi merupakan proses pencernaan (digesti). (Murray, Granner, 1999).

Perubahan kimiawi dalam proses pencernaan diselenggarakan dalam bantuan berbagai enzim hidrolase pada saluran cerna yang mengkatalisasi hidrolisis protein menjadi asam amino, pati menjadi monosakarida, dan triasilgliserol menjadi monoasilgliserol, gliserol, serta asam lemak. (Murray, Granner, 1999).

Sistem pencernaan atau saluran gastrointestinal sebenarnya adalah suatu saluran yang dimulai dari mulut sampai pada pelepasan. Bahan makanan yang terdapat dalam saluran itu sebenarnya masih ada di luar tubuh. Bahan itu akan masuk dan merupakan bagian dari tubuh apabila bahan tersebut sudah menembus dinding saluran atau diabsorbsi oleh dinding intestin. (Martoharsono, Mulyono, 1978).

Proses pencernaan berawal di dalam rongga mulut. Saliva yang disekresikan oleh glandula salivarius (kelenjar liur), terdiri atas air sekitar 99,5 persen. Saliva berfungsi sebagai pelumas pada waktu mengunyah dan menelan makanan. Penambahan air pada makanan yang kering akan memberikan media untuk melarutkan molekul makanan dan di dalam media ini, enzim-enzimhidrolase dapat memulai proses pencernaan. Gerakan mengunyah berfungsi untuk memecah makanan dengan menaikkan kelarutannya dan memperluas daerah permukaan bagi kerja enzim. Saliva juga merupakan sarana untuk mengekskresikan obat-obat tertentu (misalnya etanol dan morfin), ion-ion organik seperti K+, Ca2+, HCO3-, tiosianat (SCN-) serta yodium dan imunoglobin (IgA). (Murray, Granner, 1999).

Nilai pH saliva biasanya berkisar sekitar 6,8, kendati dapat bervariasi pada salah satu dari kedua sisi netralitas tersebut. (Murray, Granner, 1999).

Rongga mulut mengandung saliva yang disekresi oleh 3 pasang kelenjar saliva: kelenjar parotis, submaksillaris dan sublingualis. (Martoharsono, Mulyono, 1978). Saliva mengandung amilase dan lipase. Amilase salivarius mampu menghidrolisis pati dan glikogen menjadi maltosa; namun demikian, makna kemampuan ini tidak begitu penting di dalam tubuh karena waktu kontak enzim tersebut dengan makanan sangat singkat. Enzim amylase salivarius dapat dihilangkan keaktifannya dengan cepat pada pH 4,0 atau kurang, sehingga kerja enzim tersebut untuk mencernakan makanan dalam mulut segera akan berhenti di dalam suasana lambung yang asam. Pada banyak binatang, enzim lipase salivarius sama sekali tidak dijumpai. Enzim lipase lingual disekresikan oleh permukaan dorsal lidah (kelenjar Ebner), namun sejumlah penyelidikan menunjukkan bahwa enzim tersebut tidak mempunyai arti penting pada manusia jika dibandingkan dengan tikus atau mencit, di mana lipase lingual merupakan satu-satunya lipase preduodenal. (Murray, Granner, 1999).

Amilase (atau sering disebut diastase) adalah nama enzim yang dapat menghidrolisis amilum. Sekurang-kurangnya ada tiga jenis amylase yaitu -amilase, -amilase dan gluko-amilase. Hasil hidrolisis enzimatik ini berupa sakarida yang sederhana dan dextrin. Tergantung dari tingkat hidrolisis amilum maka dextrin yang terbentuk memmiliki barat molekul yang berbeda-beda. Makin lama dextrin yang terbentuk, makin kecil berat molekulnya. Reaksi khusus yang dipergunakan untuk mengetahui tingkat hidrolisis tersebut di atas adalah larutan yod (Martoharsono, Mulyono, 1978).

3.1.2 pencernaan lemak oleh lipase pankreas

Menurut Lehninger (1982), kita telah mengamati beberapa komponen sel yang penting : air, protein, enzim, koenzim, dan karbohidrat. Masih terdapat golongan biomolekul lain, yaitu lipida. Lipida adalah senyawa organk berminyak atau berlemak yang tidak larut di dalam air, yang dapat diekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut non polar, seperti kloroform atau eter. Jenis lipida yang paling banyak adalah lemak atau triasilgliserol, yang merupakan bahan bakar utama bagi hampir semua organisme. Golongan ini adalah bentuk energi kimia simpanan yang paling penting.

Lemak adalah suatu ester antara gliserol dan asam lemak dimana ketiga radikal hidroksil dari gliserol diesterkan. Lemak merupakan trigliserida. Dalam tubuh manusia, hewan dan tanaman kita banyak mendapati lemak ini, yang merupakan lemak kasar dan tidak murni kemungkinan masih mengandung hidrokarbon, fosfolipida dan malam, sterol, pigmen-pigmen yang larut dan asam lemak bebas (Sumardjo, 1987).

Menururt Anna Poejiadi (1994), lipid yang terdapat dalam makanan sebagian besar berupa lemak, oleh karena itu metabolisme yang akan dibahas terutama adalah metabolisme lemak. Pada umumnya lipid merupakan konduktor panas yang jelek, sehingga lipid dalam tubuh mempunyai fungsi untuk mencegah terjadinya kehilangan panas dari tubuh. Makin banyak jumlah lemak, makin makin baik fungsinya mempertahankan panas dalam tubuh. Pada proses oksidasi 1 gram lemak dihasilkan 9 kkal, sedangkan 1 gram karbohidrat maupun protein hanya menghasilkan 4 kkal. Selain itu lemak mempunyai fungsi melindungi organ-organ tubuh tertentu dari kerusakan benturan atau goncangan. Lemak juga merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung vitamin A, D, E, dan K.

Menurut Suharsono (1987), pencernaan lemak terutama terjadi dalam usus halus, bagian awal dari usus halus disebut usus 12 jari, pada usus ini terdapat muara saluran yang berasal dari 2 buah kelenjar pencernaan yang besar, yaitu saluran dari pankreas dan dari kantung empedu dan hati. Peranan hati menghasilkan cairan empedu untuk dicurahkan ke usus 12 jari melalui saluran empedu untuk mengemulsikan lemak.

3.1.3 pencernaan protein oleh ekstra pancreas.

            Kata protein yang diperkenalkan oleh seorang ahli kimia Belanda, Geradus Mulder (1802-1880) berasal dari kata Yunani proteos, yang berarti yang utama atau yang didahulukan. Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air (Sediaoetama, 1987). Protein adalah senyawa organik yang molekulnya sangat besar dan susunannya sangat kompleks serta merupakan polimer dari asam-asam amino. Karena protein tersusun atas asam-asam amino, maka susunan kimianya mengandung unsur-unsur yang menyusun asam amino seperti C,H,O dan N. Asam amino merupakan turunan asam karboksilat dengan gugus amina. Oleh karena itu, dalam setiap molekul terdapat sekurang-kurangnya dua gugus fungsi karboksilat dan gugus amina. Asam amino bersifat amfoter yaitu dapat bersifat asam dan basa (Winarno, 1988).

Pepsinogen akan berubah menjadi pepsin karena adanya HCl, pepsin bekerja pada suasana asam apabila dalam suasana basa dan pemanasan akan rusak Protein dapat larut dalam air, menggumpal jika dipanaskan, dapat bereaksi dengan senyawa-senyawa tertentu, dapat terdenaturasi (misal: panas, sinar ultraviolet, dan bahan kimia tertentu). Enzim proteolitik pankreas juga dapat mengkatalisis hidrolis protein menjadi asam amino (David, 1997). Secara prinsip suhu yang tinggi dapat menyebabkan protein terdenaturasi, serta dapat merusak enzim dan membran sel yang bersifat labil terhadap suhu yang tinggi. Pada suhu yang rendah, protein dan lemak membran dapat mengalami kerusakan sebagai akibat terbentuknya kristal di dalam sel (Muljana, 1985).

Hidrolisis protein akan menghasilkan asam-asam amino. Asam amino terdiri dari dua gugus yaitu gugus amino (-NH2) dan gugus karboksil (-COOH). Gugus karboksil dapat melepaskan ion H+, sedangkan gugus amino yang bersifat basa menerima ion H+ (Poedjiadi, 1994). Protein dalam tubuh dapat dicerna oleh pepsin dan ekstrak pankreas. Pencernaan protein oleh pepsin bekerja dalam suasana asam, apabila berada dalam suasana basa dan pemanasan akan rusak. Pepsin tersebut dihasilkan dalam bentuk zimogen (tidak aktif) yaitu pepsinogen. Pepsinogen akan berubah menjadi pepsin karena adanya HCl. Pencernaan protein oleh ekstrak pankreas paling baik bekerja dalam suasana basa. Namun, bila dipanaskan enzim tersebut mengalami kerusakan (Winarno, 1998).

 

            3.1.4 hidrolisis amilum.

            Hidrolisis amilum merupakan proses pemecahan molekul amilum menjadi bagian–bagian penyusun  yang lebih sederhana seperti dekstrin, maltosa,  isomaltosa, dan glukosa (Rindit,et.al,1998). Hidrolisis amilum ini dibantu oleh enzim alpha amilase. Mekanisme kerja dari enzim alpha amilase adalah  dengan cara memecah ikatan alpha 1-4 glikosida  rantai amilum dari sebelah dalam (Zulbadar,2004).

Enzim ini dapat bekerja optimal pada suhu antara 30-  40o C dan suasana pH basa. Untuk mengetahui terdapatnya gula sederhana dalam suatu larutan, dapat menggunakan larutan Fehling A dan Fehling B atau Benedict. Reagen Benedict (larutan biru yang mengandung ion tembaga) digunakan sebagai indikator adanya gula yang tereduksi / gula sederhana. Ketika campuran larutan yang mengandung gula dan reagen Benedict dipanaskan, ion tembaga (II) yang berasal dari reagen Benedict akan tereduksi menjadi ion tembaga (I) dan warna larutan berubah. Amilum apabila terhidrolisis akan menjadi senyawa gula sederhana yaitu glukosa. Apabila terdapat glukosa maka akan terbentuk warna dari pencampuran dengan larutan Benedict (Zulbadar,2004).

 

3.2 GLIKOLISIS

            Glikolisis adalah proses pemecahan glukosa atau monosakarida yang lain menjadi asam piruvat dan asam laktat tanpa menggunakan oksigen. Dalam proses ini dua molekul ATP digunakan dalam fosforilasi (Poedjiadi, 1994). Glikolisis merupakan jalur, dimana pemecahan D-glukosa yang dioksidasi menjadi piruvat yang kemudian dapat direduksi menjadi laktat. Jalur ini terkait dengan metabolisme glikogen lewat D-glukosa 6-fosfat (Muljana, 1985).

Glikolisis dapat berlangsung dalam keadaan aerob, bila sediaan oksigen cukup untuk mempertahankan kadar NAD+ yang diperlukan, atau dalam keadaan anaerob (hipoksik), bila kadar NAD+ tidak dapat dipertahankan lewat sistem sitokrom mitokondrial dan bergantung pada usaha temporer perubahan piruvat menjadi laktat. Glikolisis anaerob, yang menaruh kepercayaan temporer pada piruvat merupakan usaha tubuh dalam menantikan pulihnya kecukupan oksigen. Dengan demikian glikolisis merupakan keadaan ini disebut hutang oksigen (Aulia, 2010). Untuk fermentasi anaerobik sederhana, metabolisme dari satu molekul glukosa menjadi dua molekul piruvat memiliki hasil bersih dua molekul ATP. Proses ini menghasilkan produk akhir dari etanol atau asam laktat. Banyak bakteri menggunakan senyawa anorganik sebagai akseptor hidrogen untuk meregenerasi NAD +. Sel melakukan respirasi aerobik lebih mensintesis ATP, tetapi bukan sebagai bagian dari glikolisis. Ini reaksi aerobik lebih lanjut menggunakan piruvat dan NADH + H + dari glikolisis. Eukariotik respirasi aerobik tambahan menghasilkan kira-kira 34 molekul ATP untuk setiap molekul glukosa, namun sebagian besar diproduksi oleh mekanisme yang sangat berbeda pada tingkat substrat fosforilasi dalam glikolisis (Grandmall, 2010).

Proses glikolisis terjadi dalam sitosol, merupakan proses pemecahan glukosa sehingga dihasilkan 2 molekul asam piruvat. Reaksi ini dapat berlangsung secara aerob maupun anaerob. Alur pemecahan glukosa ini disebut alur EMP (Embden – Meyerhoff – Pamas) atau alur fruktosa di-fosfat (David, 1997). Berdasarkan mobilisasi ATP, proses glikolisis terbagi menjadi dua tahap, tahap pertama merupakan serangkaian reaksi yang membutuhkan ATP, dan tahap kedua merupakan serangkaian reaksi yang menghasilkan ATP. ATP dibutuhkan untuk mengawali proses glikolisis, yaitu proses fosforilasi glukosa, sehingga dihasilkan glukosa 1-fosfat. Selain itu ATP juga dibutuhkan untuk pembentukan fruktosa 1.6 –difosfat dari senyawa fruktosa 6-fosfat. Reaksi yang menghasilkan ATP adalah:
1. Reaksi perubahan gliseraldehid 3-fosfat menjadi 1.3-difosfo asam gliserat. NAD dalam reaksi

ini mengalami reduksimenjadi NADH.
2. Reaksi perubahan 1.3 difosfo asam gliserat menjadi 3-fosfo asam gliserat. Gugus P berenergi tinggi dilepaskan, dipindahkan ke ADP sehinga terbentuk ATP.
3. Reaksi pelepasan guus fosfat berenergi tinggi dari PEP (fosfoenolpiruvat) sehingga terbentuk asam piruvat (Tillman, 1991).

Di dalam tubuh, glukosa akan dioksidasi untuk menjadi senyawa lain sesuai dengan keperluan masing-masing sel, seperti asam laktat dan piruvat. Peristiwa oksidasi inilah yang umum dikenal dengan istilah glikolisis. Glikolisis terjadi di sitosol dan merupakan langkah awal dari proses produksi energi utama di dalam tubuh manusia dimana piruvat menjadi salah satu senyawa prekursor terpenting (Soediaoetama, 1987).

Setiap pemecahan 1 molekul glukosa pada reaksi glikolisis akan menghasilkan produk kotor berupa 2 molekul asam piruvat, 2 molekul NADH, 4 molekul ATP, dan 2 molekul air. Akan tetapi, pada awal reaksi ini telah digunakan 2 molekul ATP, sehingga hasil bersih reaksi ini adalah 2 molekul asam piruvat (C3H4O3), 2 molekul NADH, 2 molekul ATP, dan 2 molekul air. Perlu dicatat, pencantuman air sebagai hasil glikolisis bersifat opsional, karena ada sumber lain yang tidak mencantumkan air sebagai hasil glikolisis (Winarno, 1988).

 

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN.

4.1  PENCERNAAN MAKANAN.

  1. Fungsi saliva dan mulut.
    1. Daya amilolitik saliva.

Tabung 1. Warna larutan setelah diuji dengan yod tidak menimbulkan reaksi apapun. Warna larutan yang terjadi tetap seperti warna yod.
Tabung 2. Setelah diuji dengan larutan yod warna larutan menjadi hijau lumut (belum sama dengan warna yod)
Tabung 3. Setelah diuji yod, warnanya menjadi merah. Pada pengujian selanjutnya yaitu uji Benedict, warna yang terjadi adalah hijau. Dan pada pengujian terakhir yaitu uji Osazon, kristal yang terjadi tidak dapat terlihat di mikroskop.

Pada tabung pertama, larutan tidak menunjukkan hasil positif dengan pereaksi yod karena, enzim amylase yang terdapat pada saliva sudah rusak oleh pengaruh suhu yang terlalu tinggi (pemanasan). Itulah sebabnya meskipun dimasukkan ke dalam penangas air, tidak akan terjadi reaksi apapun. Pada tabung kedua, warna hijau yang terjadi adalah juga merupakan pengaruh dari asam klorida HCl yang pada manusia ditemukan pada lambung. Pada pH rendah dalam lambung, enzim amylase tidak dapat berfungsi menghidrolisis sakarida (amilum). Sedangkan pada tabung ketiga, hasil yang terjadi kurang sesuai dengan harapan, sebab kemungkinan amilum yang dipakai terlalu sedikit dan tahap hidrolisis yang terjadi belum sampai pada tahap monosakarida (glukosa). Hasil yang seharusnya didapatkan adalah dengan pengujian yod, adalah warna larutan menjadi sama dengan warna yod dengan melalui proses perubahan warna tertentu. Perubahan warna tersebut merupakan hasil antara hidrolisis amilum menjadi glukosa yang melalui tahap hidrolisis menjadi dekstrin. Sehingga dengan uji Benedict, akan terdapat endapan merah bata dan dengan uji Osazon terdapat kristal-kristal glukosa.

 

  1. Pencernaan oleh pancreas.
    1. Hidrolisis protein.

Percobaan pada tabung 1 yang berisi pankreatin, HCl dan putih telur rebus mengalami reaksi negatif. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman (1991) yang menyatakan bahwa Asam-asam amino dalam ikatan peptide tidak tanggap terhadap reaksi asam-basa dan asam-basa dapat menyebabkan terjadinya denaturasi yang akan menonaktifkan kerja protein (enzim) dan HCl merupakan asam kuat.

Tabung 2 yang berisi pankreazim, HCl dan putih telur rebus menunjukkan reaksi positif yang menandakan terjadinya pencernaan protein karena suasana dalam tabung 5 adalah basa. Hal ini sesuai dengan pendapat Poedjiadi (1994) bahwa hidrolisis protein oleh enzim proteolitik dalam pankreas paling baik ada suasana basa. Pada reksi yang positif ditunjukkan dengan warna larutan yang berubah menjadi bening dan pada reaksi yang negatif larutannya tetap keruh. Hal ini sesuai dengan pendapat Sastroamidjojo (2005) bahwa hidrolisis protein oleh enzim proteolitik dalam pankreas paling baik pada suasana basa.

Tabung 3 yang berisi pankreazim panas, NaOH dan putih telur rebus menunjukkan reaksi positif dengan larutannya yang berwarna bening. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Allen (1984) bahwa pencernaan protein oleh ekstrak pankreas paling baik

bekerja dalam suasana basa, bila dipanaskan enzim tersebut mengalami kerusakan.

  1. c.       Hidrolisis lemak.

Hasil:

Tabung 1
Sebelum diinkubasi susu dengan tripanzim terpisah. Setelah diinkubasi minyak susu dengan tripanzim bercampur. Selanjutnya, dititrasi dengan NaOH 0,1 N, setelah terjadi perubahan warna menjadi merah muda, titrasi dihentikan. NaOH yang dibutuhkan sebanyak 0,25 mL.
Tabung 2
Sebelun diinkubasi antara susu, tripanzim, dan empedu terpisah. Tetapi setelah diinkubasi susu, tripanzim, dan empedu menjadi satu, atau bercampur. Selanjutnya, dititrasi dengan NaOH 0,1 N, setelah terjadi perubahan warna menjadi merah muda, titrasi dihentikan. NaOH yang dibutuhkan sebanyak 0,45 mL.
Tabung 3
Pada tabung ketiga, yaitu antara susu dengan air, sebelum diinkubasi maupun setelah diinkubasi, tidak terjadi percampuran antara susu dengan air. Setelah diinkubasi, selanjutnya dititrasi dengan NaOH 0,1 N. hentikan titrasi setelah larutan berwarna merah muda. Sedangkan pada tabung 3 NaOH yang dibutuhkan sebanyak 0,05 mL.
Pembahasan:
Pada tabung 1, pembebasan asam lemak lebih cepat terjadi karena adanya tripanzim yang berfungsi sebagai katalisator, sehingga pembebasan asam lemak akan lebih banyak dibandingkan dengan tabung 3. Hidrolisis lipid menghasilkan gliserol dan asam lemak karena adanya sifat lipase pankreas atau steapsin menyerang ikatan ester triasil gliserol.
Pada tabung 2, pembebasan asam lemak lebih banyak dibandingkan dengan tabung 1, hal ini dikarenakan selain adanya tripanzim yang berfungsi sebagai katalisator. Tapi bila dipandang dari fungsi empedu yang direaksikan pada tabung kedua maka hasil yang seharusnya didapat adalah jumlah titran yang dibutuhkan pada tabung kedua lebih banyak dibandingkan dari tabung pertama dan ketiga. Hal ini disebabkan karena pemecahan lemak dengan cara hidrolisis pada tabung reaksi dibantu oleh garam asam empedu yang terdapat dalam cairan empedu sebagai emulgator
Pada tabung 3, pembebasan asam lemak terjadi hanya sedikit dibandingkan dengan tabung 1 dan 2. karena dalam percobaan ini tidak terdapat enzim atau zat yang berfungsi sebagai katalisator, katalisator berfungsi untuk mempercepat reaksi. Sehingga proses pemecahan lemak berlangsung lambat. Disamping itu hal ini disebabkan air dan susu merupakan cairan yang tidak saling berbaur, tetapi saling ingin terpisah karena mempunyai berat jenis berbeda.
Tripanzim sebagai enzim yang digunakan merupakan katalis pada reaksi pemecahan molekul lipid dengan cara hidrolisis. Enzim ini bekerja optimal pada pH 5,5 sampai 7,5. Namun tahan terhadap lingkungan yang bersifat sangat asam dan dapat juga melangsungkan reaksi hidrolisis terhadap molekul triasil gliserol atau trigliserida yang mengandung asam lemak pendek atau sedang.
Reaksi pada tabung pertama dan kedua adalah proses hidrolisis Untuk mengetahui proses ini berjalan atau tidak dengan menggunakan basa yang direaksikan saat titrasi yaitu NaOH 0.1 N. Proses hidrolisis menghasilkan gliserol dan asam lemak atau sabun.
Penambahan 3 tetes PP 1% pada setiap tabung reaksi dimaksudkan sebagai indikator yang menandai terjadinya proses hidrolisis dengan berubahnya warna larutan menjadi merah muda pada larutan yang dititrasi dengan menggunakan NaOH.
Inkubasi dilakukan pada ketiga tabung menggunakan suhu 37oC selama 60 menit. Hal ini memberikan reaksi pada tabung pertama dan kedua, sedang pada tabung ketiga tidak terjadi hidrolisis di dalamnya. Hal ini terjadi karena proses hidrolisis pada tabung reksi pertama dan kedua yang menggunakan katalis enzim yang proses kerjanya dipengaruhi oleh suhu. Suhu 37oC yang merupakan suhu optimum enzim. Faktor lain yang mempengaruhi kerja enzim selain suhu adalah pH dan konsentrasi.

 

 

4.2  GLIKOLISIS.

  1. Pembentukan piruvat dari glukosa.

Hasil:
pembahasan:

Setelah disentrifugasi  supernatant diambil dan dilakukan piruvat. Pada tabung A dan B (ensim+substrat), tabung c (substrat+H2O), dan tabung D (H2O+RW). Pada tabung A,B,dan D berwarna kuning, hal ini terjadi karena pada ke tiga tabung tersebut terdapat substrat, sehingga substrat tersebut dipecahkan oleh enzim, dan menghasilkan warna kuning yang sama pada ke tiga tabung, sedangkan pada tabung C berwarna hitam, hal ini terjadi karena pada tabung C tidak terdapat substrat, sehingga aquades diregradasi oleh enzim  secara utuh, dan menghasilkan warna hitam.

  1. Uji natrium Nitroprussida.

Hasil: cincin berwarna biru

 

                        Pembahasan:

Supernata yg telah dididihkan dan di tambah dengan (NH4)2SO4 dan Na-nitroprussida di campur homogen. Lalu ditambahkan ammonia pada dinding tabung, dan diamati terlihat cincin berwarna biru. Ini disebabkan karena natrium  nitroprussida dan ammonia dapat bereaksi dengan air.

  1. Uji  2,4-dinitrofenilhidrazin.

Hasil: terbentuk endapan kuning ke coklatan.

 

Pembahasan:

2,4-dinitrofenilhidrazin sering disingkat menjadi 2,4-DNP atau 2,4-DNPH. Larutan 2,4-dinitrofenilhidrazin dalam sebuah campuran metanol dan asam sulfat dikenal sebagai pereaksi Brady. Pada uji 2,4-dinitrofenilhidrazin seharusnya menghasilkan warna merah.

Masukkan beberapa tetes aldehid atau keton, atau bisa juga larutan aldehid atau keton dalam metanol, ke dalam pereaksi Brady. Terbentuknya endapan kuning atau oranye terang mengindikasikan adanya ikatan rangkap C=O dalam sebuah aldehid atau keton.

V. KESIMPULAN.

  1. Pada percobaan daya amilolitik saliva  Pada tabung kedua terbentuk  warna hijau karena merupakan pengaruh dari asam klorida HCl yang pada manusia ditemukan pada lambung.
  2. Pada percobaan hidrolisis lemak oleh pancreas Fungsi empedu dalam percobaan ini yaitu untuk mengemulsikan lemak..
  3. Pada percobaan hidrolisis lemak oleh pancreas, Pankreas menghasilkan enzim yang berfungsi untuk memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Enzim yang dihasilkan oleh pankreas adalah enzim lipase.
  4. Pada percobaan hidrolisis protein oleh pancreas, ekstrak pankreas (sebagai pengganti getah pankreas) hanya dapat mencerna protein dalam kondisi basa yaitu dilarutkan dengan larutan NaOH karena pencernaan protein hanya terjadi di lambung dan usus. Protein dapat dicerna jika substratnya lebih kecil daripada enzim. Protein memiliki sifat seperti enzim yaitu tidak dapat bekerja pada suhu yang tinggi karena terjadi denaturasi.
  5. Pada percobaan pembentukan piruvat dari glukosa, fungsi enzim amylase adalah untuk memecah ikatan dari pati.

 

VI. DAFTAR PUSTAKA.

http://yukiicettea.blogspot.com/2009/10/biochemistry-laporan-biokimia-gigi-dan.html

http://tissacuitzz.blogspot.com/2010/12/laporan-biokimia.html

http://ipulmujib.blogspot.com/2010/06/laporan-biokimia-bab-ii-i-lemak.html

http://www.scribd.com/doc/42390966/FISIOLOGI-SISTEM-PENCERNAAN

“LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PENCERNAAN MAKANAN DAN GLIKOLISIS”

SISTEM ANATOMI FISIOLOGI SISTEM INTEGUMEN DAN HIGIENE

  1. Anatomi fisiologi sistem integument
  • Pengertian kulit
  • Lapisan  kulit
  • Fungsi kulit
  • Kelenjar pada kulit
  • Saraf pada kulit
  • Pembuluh darah pada kulit
  • Jaringan kulit
  • Pigmentasi kulit
  • Pelengkap kulit
  • Fisiologi indra peraba
  • Reaksi putih
  • Triple respons
  • Hyperemia aktif
  • Macam-macam penyakit kulit
  1. Dermatitis
  • Pengertian
  • Penyebab
  • Tanda dan gejala
  • Cara pencegahan
  • Cara pengobatan
  • Askep dermatitis
  1. Konsep tindakan keperawatan
  • Kebersihan perorangan ( perawatan kulit, kuku kaki dan tangan, gigi dan mulut, mata, telinga, hidung, rambut, dan perineum )
  • Kebersihan lingkungan ( menyapu, mengepel, merapikan tempat tidur, dan melawa-lawa ).

PEMBAHASAN

                                     

Anatomi fisiologi sistem integument

 gambar kulit            

 

      Pengertian kulit

Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi dan melindungi permukaan tubuh, berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi rongga-rongga lubang-lubang masuk. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar keringat dan kelenjar mukosa.

 lihat selengkapnya……. Read the rest of this entry

pencernaan manusia

inilah proses pencernaan manusia

 

anatomi dan fisiologi sistem pencernaan

anatomi dan fisiologi sistem pencernaan

 

Saluran pencernaan terdiri dari:

1. mulut

2. faring

3. esofagus

4. lambung

5. usus halus

6. usus besar

7. rektum dan anus

Read the rest of this entry

pencernaan

Sistem pencernaan (bahasa Inggris: digestive system) adalah sistem organ dalam hewan multisel yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut melalui dubur. Sistem pencernaan antara satu hewan dengan yang lainnya bisa sangat jauh berbeda.

Read the rest of this entry

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.